PESTA BABI : KOLONIALISME DI ZAMAN KITA

0

 PESTA BABI : KOLONIALISME DI ZAMAN KITA

Catatan Eko Saputra Poceratu 

Hela napas panjang par felem ini. Nonton akang macam nonton katong sandiri. Yah, karna apa yang dialami Papua adalah juga apa yang dialami Maluku. Pelan-pelan satu demi satu pulau dibabat, diambil kandungannya dan wilayah-wilayah yang punya kandungan, langsung dipatok milik negara, sambil mengabaikan tanah masyarakat adat.

Felem ini buka katong pung mata tambah lebar, karna sebenarnya sebagian basar katong jua su tau, mar kepeng tampar dalam sistem, sampe lupa jaga tanah sandiri. Lewat perizinan dari para wakil rakyat, katong nikmati pemandangan rusaknya alam, rasakan banjir, pencemaran sungai, laut dan sebagainya.

Betapa katong bisa secara terang-terangan lihat cara karja sistem konglomerat, elit politik, barmaeng taktik pake UU, Hukum dan militer par muluskan berbagai macam proyek. Bayangkan, tanah yang su ratusan tahun katong pung leluhur jaga, tiba-tiba jadi lahan tambang, tiba-tiba dibabat, tiba-tiba jadi proyek pangan nasional. Apa dampaknya? Kehancuran alam. Kelaparan bagi masyarakat adat. Dong pung ruang hidup, hilang! 

Lalu katong pertanyakan, ini izin darimana? Ini pemimpin sapa yang kasi izin dan sebagainya. Hari-hari ini, kalau katong seng kasi diri par peduli terhadap ruang-ruang hidup itu sama saja, katong sementara tunggu antrean lebe ponoh lai par kehilangan tanah-tanah. Satu demi satu lahan su bukang katong punya. Sistem asal jual tanah manakala susah uang jua jadi salah satu faktor katong kehilangan ruang hidup.

Selama ini, masih banya orang berpikir, setelah jual tanah, dia bisa bali ulang. Adoh, itu susah, mustahil di era ini. Tanah itu investasi seumur hidup. Orang mati pun perlu tanah. Sebab itulah, tanah diperebutkan. 

Cara pandang katong yang slama ini bilang, "Sudah, masalah tanah itu nanti pemerintah yang urus, nanti tim advokasi urus, dan lain-lain." Kalau katong sandiri seng balajar soal UU, soal tanah, hukum, katong gampang dapa tipu. Tinggal masuk, dong sosialisasi, katong tanda tangan, bulan depan alat berat masuk. Selesai sudah.

Jadi, sempatkan waktu untuk nonton felem ini dan bangun diskusi dengan jejaring, karna film ini buka katong wawasan lebe jauh soal berbagai macam modus proyek yang tujuannya adalah bikin yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin, di tanahnya sendiri. Masalah ini mesti menjadi bahan diskusi kritis anak-anak muda di berbagai tempat, seperti sekarang ini. Komunitas, yayasan, kampus, dan berbagai tempat lainnya sementara diskusi film ini dan sama-sama transfer pengetahuan.

Katong juga sama. Saat ini di beberapa tempat di Maluku, sudah mulai adakan nobar film ini. Makin menjalar makin baik. Angkatan Muda Gereja pun mesti kritis terhadap isu-isu ini. Ini lebih penting daripada jalan santa claus yang kaco-kaco, daripada biking konten maki-maki, joget slaber, deng lirik-lirik lagu mesum tanpa etika-moral. 

Masalah ruang hidup itu penting dan menjadi ruang gumul katong samua sebagai sesama manusia.

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top