Teraskatolik.official "Negara telah menjadi pembunuh!" Kata Uskup Timika di film dokumenter terbaru, Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita!
Film ini berfokus pada perjuangan masyarakat adat Papua mempertahankan tanah ulayat mereka dari proyek raksasa, melawan kolonialisme baru di negeri ini.
Memang benar, film ini tak hanya menayangkan gambar hutan yang tumbang & suara masyarakat adat yang melawan, tetapi juga merangkai 60 tahun kehadiran negara di Papua menjadi satu narasi utuh: bahwa di balik jargon "ketahanan pangan" & "transisi energi", sedang berlangsung praktik penguasaan ruang yang oleh pembuat film disebut sebagai wajah baru kolonialisme.
Kisah besar ini diawali dari pemandangan kolosal sebuah kapal yang membawa ratusan alat berat ke Papua Selatan. Jumlahnya kian hari kian bertambah yang kemudian dengan cepat orang asli Papua tersadar juga, inilah bagian yang secara resmi oleh pemerintah Indonesia disebut "Proyek Strategis Nasional", (PSN) "Food Estate", Proyek Ketahanan Pangan Nasional.
Di Papua targetnya jelas: 2,5 juta hektare hutan di Merauke, Boven Digoel, & Mappi dikonversi menjadi perkebunan industri tebu dan sawit untuk bioetanol serta biodiesel.
Skala ini menjadikan proyek tersebut salah satu deforestasi terbesar dalam sejarah dunia modern.
6
Rupanya bagi pemerintah negara Indonesia, tanah, hutan dan ruang hidup di Papua itu dianggap sebagai lumbung pangan & energi masa depan.
Namun bagi suku Malind, Awyu, Mandobo, Yei, & Muyu, tanah itu adalah rumah, apotek, sekolah adat, dan kuburan leluhur.
Ketika peta konsesi untuk PSN "Food Estate" menimpa wilayah ulayat, mereka menjawab dengan cara yang sangat sakral: menancapkan Salib Merah.
Gerakan Salib Merah sebagai simbol perlawanan budaya kemudian menyebar.
Lebih dari 1.800 salib berdiri sebagai batas fisik sekaligus spiritual, penanda bahwa tanah itu berpenghuni, bertuan, dan bernyawa.
Bunda Maria Penolong Umat Kristiani, doakanlah & gerakan hati nurani pemerintah serta doakanlah Masyarakat & Lingkungan Hidup di Papua!

