GERAKAN KEMANUSIAAN MELAWAN KOLONIALISME BARU

0

 "PESTA BABI"

GERAKAN KEMANUSIAAN MELAWAN KOLONIALISME BARU 

DI TANAH PAPUA


I.Sandyawan Sumardi 


Setelah film-film dokumenter karya Watchdoc yang dipimpin sutradara Dandhy Laksono "Jakarta Unfair" (2016), Sexy Killer" (2019) dan "Dirty Vote" (2024)  berhasil mengguncang publik di tanah air maupun di mancanegara, kini hadir "Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita" karya Dandhy Laksono dan Cypri Jehan, yang  rupanya kini bahkan terasa lebih kontroversial sebagai perbincangan publik, justru karena aksi pelarangan dari pihak militer Indonesia dalam beberapa ikhtiar nonton barengnya. 


SEMAKIN DILARANG NOBAR, SEMAKIN MENYEBAR


Tak bisa disangkal, film dokumenter "Pesta Babi" telah menjadi pemantik gelombang kesadaran baru di ruang publik Indonesia terutama di bulan Mei 2026. 


Berdasarkan informasi hingga 10 Mei 2026, film dokumenter kontroversial "Pesta Babi" karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale telah disetel dalam ratusan titik nonton bareng (nobar) di berbagai kota di Indonesia, bahkan hingga luar negeri. 


Meskipun mengalami pembubaran di beberapa tempat, antusiasme nobar tetap tinggi. 


Laporan pada 2 Mei 2026 menyebutkan sudah ada sekitar 130 titik nobar. 

Rupanya nobar "Pesta Babi" telah mencapai skala besar.


Sampai tanggal 10 Mei 2026, Kegiatan nobar dilaporkan mencapai 87 titik pada 8 Mei 2026, yang diadakan oleh komunitas, organisasi mahasiswa, hingga takmir masjid.


Nobar tanggal 9-10 Mei, titik nobar terus meluas dan diadakan setiap hari di berbagai wilayah.


Film ini menuai kontroversi karena dianggap provokatif dan mendiskreditkan pemerintah terkait Proyek Strategis Nasional (PSN) "Food Estate" di Papua. 


Akibatnya, beberapa nobar dibubarkan oleh aparat keamanan, terutama oleh pihak militer, di antaranya di Universitas Mataram (7/5/2026) dan Benteng Oranje, Ternate (8/5/2026).


PESTA BABI: KOLONIALISME DI ZAMAN KITA


Film ini berfokus pada perjuangan masyarakat adat Papua mempertahankan tanah ulayat mereka dari proyek raksasa, melawan  kolonialisme baru di negeri ini.


Dan memang benar, film ini tak hanya menayangkan gambar hutan yang tumbang dan suara masyarakat adat yang melawan, tetapi juga merangkai 60 tahun kehadiran negara di Papua menjadi satu narasi utuh: bahwa di balik jargon “ketahanan pangan” dan “transisi energi”, sedang berlangsung praktik penguasaan ruang yang oleh pembuat film disebut sebagai wajah baru kolonialisme.


Kisah besar ini diawali dari pemandangan kolosal sebuah kapal yang membawa ratusan alat berat ke Papua Selatan. Jumlahnya kian hari kian bertambah yang kemudian dengan cepat orang asli Papua tersadar juga, inilah bagian yang secara resmi oleh pemerintah Indonesia disebut "Proyek Strategis Nasional", (PSN) "Food Estate", Proyek Ketahanan Pangan Nasional. 


Di Papua targetnya jelas: 2,5 juta hektare hutan di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi dikonversi menjadi perkebunan industri tebu dan sawit untuk bioetanol serta biodiesel. 


Skala ini menjadikan proyek tersebut salah satu deforestasi terbesar dalam sejarah dunia modern. 


Rupanya bagi pemerintah negara Indonesia, tanah, hutan dan ruang hidup di Papua itu dianggap sebagai lumbung pangan dan energi masa depan. 


Namun bagi suku Malind, Awyu, Mandobo, Yei, dan Muyu, tanah itu adalah rumah, apotek, sekolah adat, dan kuburan leluhur. 


Ketika peta konsesi untuk PSN "Food Estate" menimpa wilayah ulayat, mereka menjawab dengan cara yang sangat sakral: menancapkan Salib Merah. 


Gerakan Salib Merah sebagai simbol perlawanan budaya kemudian menyebar. 


Lebih dari 1.800 salib berdiri sebagai batas fisik sekaligus spiritual, penanda bahwa tanah itu berpenghuni, bertuan, dan bernyawa.


Istilah “Pesta Babi” sendiri lahir dari konteks itu. Dalam tradisi Papua Selatan, pesta babi adalah momen kemarahan kolektif ketika harga diri dan ruang hidup diinjak. Film ini memaknainya sebagai pesta tercerabutnya manusia dari akar kehidupan. 


Hutan bukan sekadar kumpulan pohon. Ia adalah dapur, identitas, dan hubungan kosmik dengan leluhur. 

Karena itu, ketika hutan dibabat, yang hilang bukan hanya kayu, melainkan seluruh tatanan hidup. 


Kalimat yang kemudian diserukan secara sporadik berdengung luas usai nobar di Bandung misalnya, mewakili perasaan itu: “Orang Papua punya rumah, tapi tidak bisa tinggal di rumahnya sendiri.”


Dari titik ini lahir seruan “Papua Bukan Tanah Kosong”. 


Frasa tersebut menolak doktrin "terra nullius" yang secara diam-diam masih bekerja melalui regulasi dan kebijakan. Doktrin itu menganggap wilayah adat sebagai ruang kosong yang sah dikapling untuk kepentingan nasional. Padahal ruang itu penuh. Ada manusia, ada sejarah, ada hukum adat, ada relasi ekologi yang sudah berusia ribuan tahun. 


Maka ketika negara hadir dengan alat berat, izin konsesi, dan aparat, yang terjadi bukan sekadar pembangunan. Yang terjadi adalah benturan dua cara memandang tanah: sebagai komoditas versus sebagai kehidupan.


TUMBUHNYA KESADARAN BARU, SOLIDARITAS "COMPASSION" DAN PERLAWANAN


Solidaritas yang tumbuh pasca menyaksikan bersama film ini tidak muncul di ruang hampa. Ia disambung oleh jejak 60 tahun operasi militer, konflik agraria, dan politik identitas yang melekat pada Papua. 


Film ini menyatukan kepingan-kepingan itu.


Film "Pesta Babi" memperlihatkan bagaimana proyek pangan dan energi tidak bisa dipisahkan dari isu keamanan, otonomi daerah, dan hak masyarakat adat. 


Karena itu, kemarahan penonton di berbagai kota nobar—dari Taman Ismail Marzuki hingga Pontianak—bukan reaksi emosional sesaat. Ia adalah akumulasi dari pengetahuan yang selama ini terserak, kini dirangkai menjadi cerita yang utuh dan menghantam.


“Hidup Korban, Jangan Diam!”. 

Diam berarti membiarkan narasi tunggal berjalan: bahwa Papua adalah ruang solusi untuk krisis Jakarta. 


Kesadaran baru melahirkan gerakan solidaritas.

Solidaritas lebih dalam arti  "Compassion", “menderita bersama”. 


"Compassion" dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan "belas kasih" atau "welas asih", meminta kita untuk pergi ke tempat yang menyakitkan, masuk ke tempat-tempat yang menyakitkan, untuk berbagi dalam kehancuran, ketakutan, kebingungan, dan kepedihan. 


"Compassion"  menantang kita untuk menangis bersama mereka yang menderita, berduka bersama mereka yang kesepian.


"Compassion", "belas kasih" 

 menuntut kita untuk siaga  menjadi lemah, rapuh, rentan terhadap mereka yang  lemah, rapuh, rentan, dan tidak berdaya terhadap mereka yang tidak berdaya. 


"Compassion" berarti terlihat penuh dalam kondisi menjadi manusia. 


"Compassion" atau "belas kasih “ adalah respons emosional, panggilan  yang penuh empati terhadap rasa sakit atau penderitaan orang lain yang menggerakkan seseorang untuk bertindak dengan cara yang akan meringankan kondisi orang tersebut atau membuat beban deritanya lebih tertahankan. 


Bersuara berarti menuntut agar setiap kebijakan yang menyentuh tanah Papua diawali dengan satu pertanyaan paling dasar: siapa yang sudah lebih dulu hidup di atasnya, dan apa kata mereka? 


Solidaritas rakyat Indonesia dalam gerakan Papua Bukan Tanah Kosong, dalam konteks ini, adalah upaya perlawanan untuk mengembalikan subjek Papua ke dalam kisah hidup tanah Papua. 


Papua bukan merupakan objek pembangunan, bukan merupakan wilayah pinggiran, melainkan sebagai tuan atas tanahnya sendiri.


“Hidup Korban, Jangan Diam!”. 

Bersama kita melawan kolonialisme baru di tanah tumpah darah kita sendiri.



#PestaBabi #PapuaBukanTanahKosong 

#PapuaDaruratHAM 

#PapuaDaruratGenosida #PapuaDaruratEkologis #PapuaDaruratKemanusiaan


Leiden 10 Mei 2026

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top