Rumus Sufi Mengenali kebohongan bukan untuk mempermalukan atau memenangkan debat, melainkan untuk menjaga diri agar tidak ikut terseret dalam gelombang dusta. Hati yang jernih adalah alat baca utama: ia mendengarkan, melihat, dan merasakan.
Maka, jangan buru-buru menuduh. Cukup kenali tanda-tandanya, lalu serahkan penilaian akhir pada Allah.
1. Gelombang hati terasa ganjil
Dalam tradisi sufi, hati adalah cermin. Jika hati dijaga dengan dzikir, ia mampu menangkap getaran yang tidak sesuai dengan kebenaran. Kebohongan sering menimbulkan “keganjilan batin, sebuah rasa yang sulit dijelaskan tapi bisa dirasakan. Sufi akan diam, merenung, lalu menimbang sebelum mempercayai.
2. Bahasa tubuh tak menyatu dengan kata
Seorang sufi percaya bahwa jasad hanyalah terjemahan jiwa. Jika lisan berkata satu hal, tapi mata atau wajah menyiratkan yang lain, maka di situlah kebohongan bersembunyi. Dalam hikmah dikatakan: Kebenaran tampak pada wajah, meski lidah berusaha menutupinya.
3. Ucapan penuh alasan yang berputar-putar
Kebenaran sederhana, lurus, dan tidak memerlukan banyak hiasan. Kebohongan justru rumit, berlapis, dan penuh alasan. Sufi belajar membaca “kerumitan yang tak perlu” sebagai tabir bahwa ada sesuatu yang sedang ditutupi.
4. Nada suara berubah-ubah
Hati yang goncang tidak bisa berbohong lewat suara. Orang yang berdusta sering meninggikan, merendahkan, atau mempercepat nada bicaranya. Sufi mengamati dengan tenang, tidak buru-buru menghakimi, tapi mencatat ketidakselarasan itu.
5. Terlalu berusaha meyakinkan
Kejujuran itu ringan, apa adanya. Tetapi kebohongan butuh drama: sumpah berlebihan, janji palsu, atau ekspresi teatrikal. Sufi melihat itu bukan dengan prasangka, melainkan dengan pandangan bahwa kebenaran tidak perlu banyak pembuktian.
6. Lupa pada detail kecil
Kebohongan rapuh karena tidak bersumber dari realitas. Saat diceritakan ulang, detailnya sering berubah. Sufi menyadari hal ini, tetapi tidak menggunakannya untuk mempermalukan orang lain. Sebaliknya, ia belajar menimbang: mana yang lahir dari kenyataan, mana yang lahir dari rekayasa.
7. Cahaya wajah meredup
Dalam tasawuf, wajah adalah cermin ruhani. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya kejujuran menuntun pada kebaikan, dan kebaikan menuntun ke surga." Kebohongan perlahan menggelapkan nur (cahaya) di wajah, dan bagi yang hatinya tajam, tanda ini dapat terlihat.
Wasalam bersambung ✌

