Mengapa Harus Daun Palma

0

Mengapa Harus Daun Palma? Mengungkap Rahasia Mengejutkan di Balik Pekan Suci Kita.

Dua wajah Minggu Palma, jangan sampai salah pilih lagu saat Misa. Jejak kemenangan dan air mata, menggali makna tersembunyi di balik sorak sorai Hosana.

Bayangkan sejenak kita sedang berdiri di jalanan berdebu kota Yerusalem dua ribu tahun yang lalu. Matahari bersinar terik, angin berhembus pelan, dan tiba-tiba terdengar gemuruh suara orang banyak dari kejauhan. 

Ada semacam euforia, kegembiraan yang meluap-luap. Orang-orang berlarian, melepaskan jubah mereka untuk dihamparkan di jalan, sambil melambaikan dedaunan hijau. 

Di tengah hiruk-pikuk itu, melintaslah seorang pria sederhana, perlahan, menunggangi seekor keledai. Itulah Yesus, yang sedang memasuki kota suci. 

Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya, mengapa penyambutan-Nya begitu luar biasa layaknya seorang raja besar, dan mengapa harus menggunakan dedaunan spesifik itu?

Mari kita telusuri lorong waktu ini perlahan-lahan. Penyambutan Yesus sebagai raja pada hari itu bukanlah sebuah kebetulan yang tiba-tiba terjadi. 

Umat Yahudi saat itu sedang berada dalam puncak penantian panjang akan datangnya seorang Mesias, seorang pembebas. 

Mereka memiliki ekspektasi mesianis, yakni kerinduan akan sosok utusan Allah yang Diurapi (itulah arti dasar kata Mesias), yang mereka harapkan tampil sebagai pembebas politik untuk melepaskan mereka dari cengkeraman penjajahan Romawi.

Ketika mereka berseru Hosana bagi Putra Daud (Matius 21:9), mereka secara sadar sedang mengakui garis keturunan rajawi Yesus. 

Apalagi, banyak dari mereka baru saja mendengar kabar mencengangkan bahwa Yesus mampu membangkitkan Lazarus dari kematian (Yohanes 12:17-18). 

Di mata mereka, jika kematian saja bisa Ia taklukkan, apalagi sekadar penjajahan Kekaisaran Romawi. 

Namun yang menarik, Yesus tidak datang menunggang kuda perang yang gagah berani. 

Ia memilih seekor keledai, persis seperti nubuat para nabi masa lalu yang menjanjikan datangnya seorang raja yang adil, jaya, namun sangat rendah hati (Zakharia 9:9). 

Sebuah ironi yang indah, bukan?

Melalui kacamata iman, Gereja memandang peristiwa ini sebagai manifestasi dari Christus Rex (yang diterjemahkan sebagai Kristus Raja). Namun, 

Ia bukanlah raja politis seperti yang dielu-elukan orang banyak, melainkan Raja Damai yang datang untuk menebus umat manusia. 

Yesus memasuki Yerusalem duniawi hari itu bukan untuk menduduki takhta istana kemewahan, melainkan untuk berjalan tegap menuju takhta salib-Nya. 

Bagi kita, Yerusalem yang berdebu itu diangkat menjadi pralambang dari Yerusalem Surgawi yang kelak Ia buka pintunya bagi kita.

Lalu, bagaimana dengan dedaunan yang dilambaikan itu? Mengapa mereka tidak memetik sembarang daun yang tumbuh di pinggir jalan?

Pemilihan daun palma memiliki akar sejarah dan spiritual yang sangat dalam bagi bangsa Yahudi. 

Jauh sebelum peristiwa itu, daun palma sudah menjadi simbol resmi untuk sukacita, perayaan, dan pembebasan. Bayangkan perayaan kemerdekaan yang penuh sorak sorai. 

Tuhan sendiri pernah memerintahkan bangsa Israel untuk menggunakan pelepah pohon kurma (kurma adalah tanaman palma dalam genus phoenix) pada Perayaan Pondok Daun atau Sukkot (Imamat 23:40), yakni sebuah perayaan syukur agung atas panen dan perlindungan Allah selama mereka mengembara.

Lebih dari itu, daun palma adalah lambang kemenangan sejati. 

Ratusan tahun sebelumnya, tokoh pahlawan mereka, Simon Makabe, juga disambut dengan puji-pujian dan daun palma ketika berhasil merebut dan membebaskan Yerusalem dari tangan musuh (1 Makabe 13:51). 

Sejak peristiwa bersejarah itu, daun palma resmi menjadi simbol patriotisme suci dan perayaan kemenangan identitas bangsa Yahudi.

Jadi, ketika umat melambaikan daun palma kepada Yesus, mereka sedang mendeklarasikan sebuah proklamasi iman, bahwa inilah Sang Pemenang Agung kita. 

Bahkan dalam gambaran surga di masa depan, orang-orang kudus yang telah melewati penderitaan dunia digambarkan berdiri memegang daun palma di tangan mereka sebagai tanda kemenangan abadi atas maut (Wahyu 7:9).

Sampai di sini ceritanya terasa sangat megah dan penuh kemenangan. 

Tapi, tahukah kita bahwa eforia ini hanyalah babak pembuka dari sebuah kisah yang jauh lebih mendalam dan menguras air mata?

Inilah rahasia penting yang sering luput dari perhatian kita saat merayakan Misa Minggu Palma di gereja. 

Perayaan ini sebenarnya memiliki dua wajah, dua peristiwa yang sangat bertolak belakang, yang digabungkan menjadi satu kesatuan liturgi. 

Wajah pertama adalah Perarakan Kemenangan. Kita berkumpul di luar gedung gereja bersama Pastor, memberkati daun palma, bernyanyi dengan riang gembira, dan berarak masuk layaknya menyambut Sang Raja. 

Praktik ini sangat beralasan. Dokumen Kongregasi Ibadat Ilahi tentang Perayaan Paskah dan Persiapannya, yakni Paschales Solemnitatis (1988) nomor 29, menjelaskan bahwa perarakan dengan ranting palma adalah pengungkapan iman umat secara terbuka akan Kristus sebagai Raja Mesianis. 

Apa maksudnya Kristus sebagai Raja Mesianis? 

Artinya, kita secara sadar mengakui bahwa Yesus adalah Sang Urapan Allah (Mesias) yang sungguh-sungguh meraja atas hati, hidup, dan sejarah kita, namun Ia memerintah melalui jalan kasih dan pengorbanan, bukan dengan pedang penjajahan.

Namun, begitu kita memasuki ritus Sabda, wajah kedua perlahan terungkap. Suasana berubah drastis menjadi kelam dan penuh duka. 

Kita mendengarkan Kisah Sengsara, melihat bagaimana sorak sorai Hosana dari kerumunan yang sama berubah wujud menjadi teriakan kejam, Salibkan Dia...!!!

Perubahan suasana hati yang sangat tajam dalam satu ibadat ini membawa sebuah konsekuensi praktis yang sangat vital, terutama bagi teman-teman yang bertugas mengurus musik dan nyanyian di gereja.

Karena adanya dua peristiwa yang kontras ini, kita tidak bisa sembarangan memukul rata pilihan lagu dari awal hingga akhir Misa. 

Sangat fatal rasanya jika kita memilih lagu persembahan atau komuni yang bernada riang gembira dan bertempo mars, padahal seluruh umat baru saja merenungkan betapa pedihnya penderitaan Yesus di kayu salib. 

Nyanyian perarakan masuk memang harus megah dan penuh kemenangan, namun begitu kita memasuki bagian liturgi Ekaristi, nyanyian harus menyesuaikan diri dengan narasi penderitaan dan pengorbanan Sang Anak Domba. 

Menempatkan lagu yang tepat pada momen yang tepat adalah kunci agar umat bisa benar-benar hanyut dalam perjalanan spiritual liturgi tersebut.

Pada akhirnya, ketika Misa selesai dan kita melangkah pulang membawa daun palma yang sudah diberkati, daun itu bukanlah jimat pelindung untuk mengusir bala. 

Dokumen panduan ibadat Gereja mengingatkan kita bahwa daun palma di rumah adalah sebuah saksi bisu, sebuah pengingat teguh akan iman kita kepada Kristus Sang Raja. 

Raja yang tidak menaklukkan dunia dengan pedang, melainkan dengan merentangkan tangan-Nya di kayu salib demi menebus kita semua.

Sebuah kisah cinta dan pengorbanan yang luar biasa, yang selalu layak untuk kita renungkan kembali setiap tahunnya. Bagaimana persiapan hati dan nyanyian di lingkungan atau paroki kita menjelang Pekan Suci ini? 


Berkah Dalem.


Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top