MILITERISASI RUANG SIPIL: ANTARA PENDEKATAN KEAMANAN DAN TRAUMA MASYARAKAT PAPUA
Ini yang namanya TNI masuk di ranah sipil! Rakyat sebenarnya tidak membutuhkan kehadiran militer Indonesia, apa lagi sampai ke kebun seperti di gambar dibawah ini. Sumpah sa yakin Militer di gambae di bawah ini tidak tau berkebun, hanya tau membunuh dan membunuh. Militer indonesia berpikir dengan cara ini bisa membuat rakyat papua hidup damai, nyatanya dengan hadirnya mereka di ranah sipil seperti begini telah membuat rakyat takut dan trauma.
Keterlibatan aparat keamanan dalam aktivitas diranah sipil, seperti yang terlihat pada gambar dinawah ini, sering kali dipromosikan oleh institusi negara sebagai bentuk pendekatan humanis atau baku bantu guna merebut hati rakyat. Namun, dari sudut pandang masyarakat lokal yang mengalami sejarah panjang konflik, gambar prajurit berseragam loreng lengkap dengan atribut tempur di tengah lahan pertanian warga justru memicu gangguan psikologi yang mendalam. Kebun, yang seharusnya menjadi ruang aman, sakral, dan sumber kedaulatan pangan bagi masyarakat adat, kini turut terambah oleh simbol-simbol militeristik.
Kehadiran militer di ranah sipil ini tidak serta-merta menghapus memori kolektif akan kekerasan yang pernah terjadi. Bagi sebagian besar warga, seragam tentara lebih identik dengan operasi keamanan, operasi penumpasan, dan represi ketimbang fungsi sosial kemasyarakatan. Ketika aparat memasuki wilayah pertanian yang sangat personal, batas antara ruang pertahanan negara dan ruang hidup sipil menjadi kabur. Bukannya menciptakan rasa aman, penetrasi ini kerap kali dipandang sebagai bentuk pengawasan yang intimidatif, yang justru memperpanjang lingkaran trauma di tanah Papua.
Upaya negara untuk menyelesaikan dinamika di Papua dengan menonjolkan kehadiran fisik aparat di berbagai sektor non militer seperti pertanian, pendidikan, dan kesehatan menunjukkan ketidakmampuan instrumen sipil daerah dalam menjalankan fungsinya secara mandiri. Alih-alih memperkuat instansi sipil dan memberdayakan para petani lokal dengan penyuluh pertanian profesional, negara justru terus melanggengkan pendekatan keamanan formal di ruang publik.
Pada akhirnya, kedamaian sejati di Papua tidak akan pernah bisa ditanam melalui ujung laras atau kehadiran seragam militer di ladang-ladang warga. Rakyat memerlukan kebebasan dari rasa takut, pengakuan atas hak-hak adat, serta ruang hidup yang bersih dari intimidasi bersenjata. Selama pendekatan teritorial dan sekuritisasi ruang sipil ini terus dipertahankan, kehadiran militer di tengah kebun warga akan tetap dilihat sebagai bentuk pendudukan psikologis yang mendatangkan kecemasan, bukan ketenteraman.
#foto #operasimiliter #papua
